Setelah sukses dengan album core, kini kagrra menyajikan sebuah album berjudul ‘Shu’.
Masih seperti biasa, album dari kagrra, disajikan dengan gambar
seorang wanita berkimono pada covernya. Hal ini menunjukkan kecintaan
kagrra, pada kebudayaan Jepang yang akan tetap melekat pada band ini.Pada track pembuka di album ini, Paraizo, kita dapat mendengar suara alat musik tradisional jepang dipadu dengan seperangkat alat musik modern menjadi paduan yang pas untuk mengiringi vokal dari Isshi.
Lagu ini santai namun penuh semangat.Kali ini Kagrra menambah instrumen biola yang muncul beberapa kali di tengah lagu. Dengan track pembuka yang cukup mengagumkan ini kita wajib terpacu untuk mendengar track-track berikutnya.
Lagu kedua adalah lagu yang dijadikan soundtrack film horor Jepang, Hitorikakurenbo. Uzu menjadi track kedua yang sangat berdinamika. Lantunan koto dari Shin dan permainan gitar Akiya di bagian interlude memperkuat mood di dalam lagu ini.
Kita dibawa bersantai di lagu ketiga, Ren, namun tetap dinamis. Lagu ini tidak terlalu berbeda dengan lagu kagrra, lainnya namun tetap layak untuk dinikmati.
Tanbi naru shi e no shoukei menjadi track keempat di album ini. Dibuka dengan permainan gitar yang membawa kita memasuki lagu ini. Menurut beat-nya, Kagrra, konsisten di setiap lagu. Overall, lagu Tanbi naru shi e no shoukei ini nampak biasa saja.
Track kelima adalah lagu Sakura Zukiyo yang sedikit mellow. Nuansa tradisional Jepang tetap terasa di setiap vokal Isshi. Sewaktu mendengar lagu ini, saya terbawa ke alam imaginasi saya, membayangkan saya berada di sebuah taman penuh pohon sakura. Kagrra berhasil menyampaikan setiap pesan pada liriknya melalui musik mereka.
Kikoku Shuu shuu pada track keenam dibuka oleh permainan musik yang sedikit lambat dan makin memuncak pada bagian reff. Masih seperti lagu kagrra pada umumnya. rupanya akiya selalu sukses dengan permainan gitar solonya di bagian interlude yang walaupun cukup singkat namun sukses sebagai klimaks dari lagu-lagu Kagrra,.
Lagu Jusou nge-dark seperti lagu Uzu. Isshi membawa kita bersantai di bagian awal lalu memuncak di bagian Reff. Akhir lagu ini dibuat menggantung.
Hal baru bagi lagu kagrra dilakukan pada lagu Subarashiki Kana Jinsei, yaitu dimasukkannya instrument sexophone yang membuat lagu ini terdengar jazzy. Kagrra selalu menunjukkan kemampuannya menggabungkan ‘east’ dan ‘west’ menjadi sebuah karya kontemporer yang tradisional.
Towa ni sebagai lagu kesembilan memberi mood yang berbeda setelah mendengar lagu Subarashiki Kana Jinsei.
Hoozuki sebagai track terakhir melantun diawali vokal Isshi yang diiringi permainan koto. Lagu ini paling kalem diantara lagu lainnya di album Shu. Kita dibawa bersantai oleh lagu ini. Ending yang manis dari Kagrra.
Tidak terlalu banyak perubahan yang dilakukan kagrra pada album ini. Namun, ada sedikit peningkatan dari segi vokal dan instrument.Setidka nya Kagrra melakukan perubahan di beberapa lagu.di album ini. Satu hal yang dibanggakan dari Kagrra adalah konsistensi mereka dalam membuat karya album. Kagrra masih tidak bisa dipisahkan dari unsur tradisional dan membuktikan bahwa unsur barat tidak bertentangan dengan timur tetapi dapat terjalin dengan baik.
#diambil dari hanayume.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar